Rabu, 26 September 2012

The New Breed of Batik

It's not brand new in concept, but it's quite interesting on how Madurese Pamekasan had adapted it so quickly : it is called Market Demand. It consist of both buying power and general taste.
The new breed of Pamekasan Batik  has its own contemporary approach : it is ‘relatively quick in execution, pop (popular) in appearance and strangely, aesthetically pleasing in the eyes.
I share couple of this so called contemporary in-expensive fabric ready to be use directly into some shirt for both men and women (since almost all regencies in Java has ruled that Friday is the batik-wearing day for all government officers)
The beauty derives from its simplistic non-heavy design and philosophy (in fact, it’s known that this batik has no philosophical ‘quest’ whatsoever). And it executed beautifully. It plays with colors, geometric forms and repetition.


 



Selasa, 18 September 2012

The Magic On The Making

Couple of days ago a had the opportunity to have a short visit to Podhek Village (near pamekasan city) to say hello tos community and the fellow batikers and i had the chance witnessing the process of the masterpiece in the making. It was planned to be "the one" since from the very beginning from the material selection to the batiking process it was done with meticulous attention from both Bang Rusydi and the boys.
The agenda of having masterpiece will be important because it will be just like testing the market's tolerance for this kind of quality and the price demanded 9yes, it will be more expensive than previous creation).The market acceptance will be important because this will determind whether we can produce this kind of quality again in the future, or it will face difficulties to 'convince' the respective/potential buyer to see what it should worth. So it will be a boundary-breaker also, for the sake of price and quality.
The Zen garden ; it will be named after finished; will be another milestones because of :
- The very unique background (isen-isen) that will consist of thousands yin-yang balls that afer finish it will give 3-D effect thanks to the detailed 'nitik' technique .
- this (the batiking process) will be done in both side of the fabric. It will be a twice longer time-labor as compared to 'normal' piece, and rarely the batik labor do that nowadays.
- The Background (Isen-isen) in the lower border (terang bulan) using rawan enggok rendering, that is a very fine and uniform. and dont forget again : it will be done in BOTH sides.
- Price threshold will hopefully have new higher for a piece of new Pamekasan-Podhek Batik. ( after all, it will worth the investment and the art value in it).
And just like everything on the east : pray to have all be in His way to have the result as perfect as we hoped for, and it will be a greater benefit for batik Podhek's and for all involved.

Minggu, 02 September 2012

New-life of the Old Culture

Sejak beberapa saat lalu banyak kain batik berkelas dan klasik dimodifikasi peruntukannya yang mulanya berupa kain panjang / sarung, menjadi tas, dompet dan sepatu.
Ada beberapa anggapan mengenai hal ini. Di satu sisi kita melihat meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap karya budaya kita ini, baik dari sisi ekonomi (banyak kain klasik yang tadinya berharga 'biasa' menjadi meingkat secara rupiah) , kultur (biasanya barang-barang asal batik ini juga diberikan keterangan mengenai 'genre', characteristic' , proses pembuatan dan sejarah dari kain batik tersebut).
Di sisi lain, karena mengubah peruntukan awal dari kain panjang / sarung menjadi barang lain, maka ada proses 'modifikasi' yang dilakukan. Istilah yang paling dikenal di kalangan batikers adalah "mutilasi" , karena batik tersebut mau tidak mau memang harus 'dikorbankan/digunting' untuk berubah fungsi.
Positif-negatif dari new interest ini punya bobot dan kubu pendukungnya masing-masing. Yang mendukung sering memberikan argumen 'cultural-love' dan kenyataan bahwa banyak kain-kain kuno ini memang sudah tidak sempurna kondisinya. Kubu Contra juga mengangkat argumen 'culture' (batik antik berkualitas tinggi seharusnya menjadi dokumentasi keagungan budaya bangsa dan dikoleksi sembari dipelajari, bukan dicacah menjadi tas, baju atau sepatu).
Bagaimana jika kita tetap mencintai batik sembari tetap menggunakan tas, sepatu atau baju dengan bahan batik yang berkualitas, tetapi dibuat baru dan tidak perlu kain klasik? Anda setuju ?

Jumat, 06 April 2012

Metamorfosis

Masyarakat Madura adalah salah satu masyarakat yang paling dinamis dan kreatif yang pernah saya kenal. bagaimana tidak :dari banyak interaksi yang terjadi baik dari hasil silang budaya (jawa-mataram dan china-semarang dan eropa) dan hasil pengalaman merantau dan berdagang, banyak sekali yang diadaptasi menjadi sesuatu yang baru yang justru dapat mencerminkan karakter kuat Madura sendiri. Batik di atas adalah "Fajar menyingsing" di Pamekasan, tetapi dikenal dengan nama "Merak Ngibing" di bumi Parahyangan. Menggambarkan sepasang merak dengan ekor bersisih-an, masyarakat Madura menagdaptasi dengan menambahkan karakter lokal, menjadi satu motif baru yang sama menariknya dan terasa dinamis (beberap diantara contoh diatas juga mengandung "Junjung Drajad" atau "Panji Lekkok")

Jumat, 17 Februari 2012

Riot of Color

Kalau sudah familiar dengan style Madura, pasti yang dicari adalah "tabrakan warna" antara warna-warna yang biasanya tidak akan di-sanding-kan dalam komposisi normal (siapa yang 'berani' menabrakkan biru dan merah terang dalam batik 'tradisional' ?)
Nah, apabila shocking composition yang dicari, keempat contoh ini mungkin dapat  mewakilinya. Batik Pamekasan produksi Desa Nongtangis kabupaten Pamekasan ini cukup halus pengerjaan cantingan nya, dan menggunakan pewarna kualitas tinggi yang tidak mudah pudar. komposisi tabrak-warna seperti ini hanya dapat indah apabila pengerjaannya rapi, warna yang digunakan kualitasnya konsisten di semua pigment yang digunakan, dan tentunya faktor estetika dan 'luck' .