Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

Non Batik Posting : Gresik Heritage, KIBAS Agenda April 2014

Guys, this is also my rather-longer posting in my FB Account. Enjoy.

Jalan-jalan KIBAS kali ini berfokus ke pengenalan budaya Jawa Timur yang sangat beragam, dan kali ini kita berkunjung ke Kampung Kemasan, Gresik.

Sekitar tahun 1853 dari satu kampung yang terkenal dengan spesialisasi pembuat & reparasi emas dengan pemuka usahanya yaitu seorang keturunan China yang bernama Bak Liong, tahun 1855 Oemar bin Ahmad, warga keturunan Arab, yang dikenal sebagai pedagang kulit serta pengusaha penangkaran burung walet mendirikan rumah di daerah ini.
Pada tahun 1861, didirikan dua rumah di sebelah kiri rumah utamanya.
Tahun 1896, lima dari tujuh anak H. Oemar (H.Asnar, H. Djaelani, H. Djaenaeddin, H. Maechsin dan H. Abdoel Gaffar) meneruskan usaha perkulitan keluarga, dan dua tahun kemudian berdirilah pabrik penyamakan kulit di Desa Kebungson Gresik yang berjaya di kisaran 1896-1916.
Berkat kemakmuran ini keluarga keturunan H. Oemar bin Ahmad berhasil mendirikan sederetan rumah di kampung kemasan yang saling berhadapan. Bangunannya memiliki keunikan arsitektur yang menjadi bukti masa keemasan kota Gresik dulu kala.
Gaya arsitektur rumah-rumah itu beragam, ada yang bergaya kolonial (Belanda), China, Melayu dan Jawa.Bangunan yang paling menonjol adalah rumah tinggal “Gajah Mungkur” milik H. Djaelani, putra keempat H. Oemar bin Ahmad, didirikan pada 1896 dan ditempati pada 1902. Dari 23 bangunan di Kampung Kemasan sampai saat ini masih dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya, tinggal 16 bangunan (rumah) yang masih terpelihara.

Sumber :
http://gresikkab.go.id/
http://nisrinamasnur.wordpress.com/
http://jawatimuran.wordpress.com/
Keterangan di lapangan


Rumah “Gajah Mungkur” milik H. Djaelani, putra keempat H. Oemar bin Ahmad, didirikan pada 1896 dan ditempati pada 1902.
Terlihat beragam gaya dalam satu bangunan yang menandai kuatnya trend "Victorian Style" pada masa itu namun sudah mulai terasa kehadiran Art-Deco pada detail-detail nya.
Yang menarik pada bangunan ini, adalah skala nya yang lebih 'manusiawi' dibandingkan bangunan/rumah yang lain... yang dibangun oleh keturunan H.Oemar Bin Ahmad ini.
Tidak didapat keterangan apakah deretan pintu-jendela kaca di bangunan ini adalah asli rancangan awal, atau ditambahkan kemudian, menutupi verandah yang lazimnya mengelilingi sisi bangunan yang dibangun pada masa itu (verandah terbuka dimaksud bisa dilihat pada lantai-dua bangunan yang sama).
 
 
 

 


Inner courtyard (family quarter) , dengan atmosphere serupa ruang pribadi untuk para wanita (dan anak-anak) yang lazim ada pada layout rumah keluarga terkemukaTionghoa dahulu (disini juga terdapat sumur seperti lazimnya).
Salah satu dari kedua jendela di lantai dua adalah jendela dekorasi (faux window).















 wrough iron banyak digunakan dalam bangunan-bangunan rumah Kampung Kemasan ini. Satu hal yang menarik adalah kepala gerbang halaman rumah bertuliskan "H ASNAR B H OEMAR" menandakan bahwa ini adalah kediaman H Asnar, satu dari kelima anak H Oemar bin Ahmad yang ikut meneruskan usaha kulit keluarga. ( B artinya adalah Bin ).















 Verandah di salah satu rumah keturunan H. Oemar bin Ahmad.
Trend "Victorian Style" yang digunakan cenderung ke arah "Queen Anne" dengan bata eksposnya, namun (dengan semangat eklektik) juga terasa pengaruh tropis yaitu adanya verandah (teras) yang lebar sebagai ruang penahan sinar matahari langsung.









 Gaya formal kolonial dengan double-rows Doric-Column.
Gaya tropis kolonial terlihat kuat pada kedua verandah (teras) yang memberikan 'ventilasi' tambahan bagi ruang yang menghadap depan, agar tidak langsung terekspos panas matahari.
Rumah-rumah sisi deret kanan tidak ada yang memiliki halaman terpagar (seperti rumah di hadapannya).















 Kediaman salah satu dari keturunan H. Oemar bin Ahmad. Walaupun secara detail berbeda dengan rumah di hadapannya yang memiliki kolom-kolom formal Doric (rumah ini menggunakan kolom tembok dan pilar besi ) gaya tropis kolonial terlihat kuat pada kedua verandah (teras) yang memberikan 'ventilasi' tambahan bagi ruang yang menghadap depan, agar tidak langsung terekspos panas matahari.
Hal menarik lainnya adalah rumah ini memiliki halaman berpagar (tertutup) sedangkan rumah-rumah lain 'dibiarkan' memiliki akses langsung ke jalan














 Jendela sekaligus pintu pada lantai dua gedung bagian belakang.
Dapat dilihat double-locks menghadap keluar di daun jendela tersebut (ini adalah gedung/ruangan untuk budidaya walet)

















Bagian menara dari rumah “Gajah Mungkur” milik H. Djaelani, putra keempat H. Oemar bin Ahmad, didirikan pada 1896 dan ditempati pada 1902.
Terlihat beragam gaya dalam satu bangunan yang menandai kuatnya trend "Victorian Style" pada masa itu (yang juga terpengaruh, bahkan di daerah koloni yang jauh dari eropa).



Minggu, 28 Juli 2013

Feeling Creative

Don't you think it's kind of bit weird to the sentence "i have borst of creativity just by finding the right pen" ? Well it did, to me at least. And if you substitute the word creative to productive, well, i'm feeling it right now.
Since Bang Rusydi of Nargis Batik challenged me with a pice of processed cotton to draw months ago, i'm feeling constant difficulties to pour my ideas into real lines. And it's manly because of not finding the suitable pen. Simply because of that. I dont know whether this processed cotton has something at the surface, or something elses, the balpoint i use (yes, ballpoint, sir) keeps jamming and jamming. and it frustates me since this burst-of-creativity doesnt come so often. I want to pour everything in that time,completely without any small 'mechanical' distraction of finding your pen refused to coperate with your mind. 
And i found one. 
And everything flow to places....
And here are they....ready to go (to the production studios in Pamekasan, that is).  

 

Farewell Friend...

It was originally posted in my Facebook wall, and i think it worth mentioned once more, in this blog, with you all....


 
 
In memoriam, Pak Murtadho
Kaget banget mendengar berita dukacita kemaren dari bang rusydi
tentang berpulangnya sahabat & kolaborator kami pak murtadho.
Perjumpaan kami seperti kebetulan yang memang ditakdirkan terjadi ,...
dan setiap kali berkumpul kongkow bareng mas imam & bang rusydi, kami berempat pasti seru mendiskusikan motif, pewarnaan, model baju dan buku-buku referensi , serta banyak project yang ingin kami raih bersama-sama.
Pak murtadho adalah panutan saya dalam totalitas, dimana latar belakang yang sederhana dan usia tidak seharusnya menjadi pembatas eksperimen berkarya secara maksimal. Juga "can-do" attitude nya yang sangat menonjol.
Selamat jalan Pak Murtadho, mudah-mudahan Allah SWT menyediakan tempat yang indah untuk sahabat baik dan seniman seperti Anda.

Sabtu, 27 Juli 2013

Masculine Line

Yesterday was the second session of “membatik bersama The Pasongsongan” the small gathering we held on our Kampoeng Ramadhan Bazaar held at Jatim Expo Surabaya. It was quite diferent experience than the previous one, and you can see it on the illustrations : me most were male. And only one was pretty (lol). Not trying to emphasie on “this one’s not for male to do” kind-of-thing , but the courage to try different thing, and this different thing happened to be in the form of batiking.


Of course it was fun, as it was with girls a week before. And most of the participants said that was the first time they tried to put their finger of art of making batik.And accidents do happened. A lot.
(one of participant wore short pants and you might guess that he was screaming a lot when a hot wax was spilled out from his canting sprout).
All in all, we were trying to introduce the love of our cultural heritage, and have fun with it.

So, go batik!! And stay creative!!      

Minggu, 21 Juli 2013

Creative Setting

Well, it turns out fun.

The Pasongsongan had the opportunity to be part of Dji Sam Soe " Kampoeng Ramadhan" annual bazaar held in Jatim Expo Building in A Yani Surabaya thims month.
Aside from the usual display booth,which i'm quite happy with the dislay arrangement (we incorporated our low traditional-style team cabinet) the Dji Sam Soe Team had this idea to held small gathering of people, batiking togeher as part of its interaction program. And of course i was delightfully agreed . It was one thing to read and hear all things batik but it was compleely different story to have your hand trying those cantings and hot wax, creating images to piece of cotton and trying to avoid spilling disaster (lol).
Groups of young people waiting their turn to try their batik skill and it was really fun to realized that making batik is not that simple. It needs sort of technique. Why ?
Well. first : canting itself a foreign writing device we ough to use it everyday.
 
 

And the hot-wax as its ink , well, it HOT wax , man. It cannot run if it's not liquid enough , or put it this way : it has to stay hot. And Acodents do happened. Frequently (ouch..). 
And strange but true : it need some kind of self-discipline. 
Batking isn't drawing on aper with modern-day pen some sort. The canting as your pen can be as easy drawing device by the one mastering it. But many of this youngsters are first-timer. So here comes slow and repeating learning process.Trying to keep the right angle, both for the sprout of canting and your left hand holding the fabric.
But as we had said above , it turns out fun.
For you wants to participate in the next event : we'll do batik experience, again in July 28th.
See you there.  
   

Jumat, 28 September 2012

Unlock the Mystery of Heritage : Gringsing & Kawung Part-1

I had the opportunity to attended this evening event of KIBAS ( Komunitas Batik Jawa Timur  - East Java Batik Community ) at the ever-beautiful House Of Sampoerna ( the old factory and residence of Sampoerna, the largest cigarette manufacturer in Indonesia ). KIBAS had the exhbition focused on the introduction of the myth, history and philosophy of Kawung & Gringsing, one of the oldest classical pattern of fabric found in Indonesia. The evening was warm and fluid since there's none of the formal ceremony existed ( if you'd familiar with Indonesia custom , there should be speech and hooring the guest-something etc ). We had an enjoyable evening with couple of special booth of private exhibition and demonstration (on how to create a batik, since this is always fascinate people, not just foreigners but local as well) , a descent evening snack corner focused on traditional "jajan pasar" (market snack of Madurese origin i believe, although i happened to be unlucky since this stall was very popular among guests) , the interesting gamelan/mocopatan corner as entertainment ( you can imagine chamber orchestra with 4-5 pieces and a singer ) and the exhibition itself, located at the main exhibition area.
The event was very successfull , attending more than 120 people based on HOS's guest-book (the real count will be much larger since personnels didn't do registration and come-by guests that originally have a plan to go to the museum or dine , would be attracted to the exhibition crowd.
There were much informations and things to share, and this is the part-1 of the posting dedicated to the event and gringsing-kawung philosophy.

We'll come back with more posting after this.