Magnificent Madura created as the meeting place for us batik affionados, room for discussing Madura culture and for you who seek friendship through mutual love of universal art. You're more than welcome to leave your imprints on this blog, and if you need to use any pictures, kindly mention this blog as your source.
Senin, 07 September 2009
common beauty 3
common beauty 2
Batik Madura yang tergolong kontemporer ini dari ukurannya memang cocok banget jadi atasan
pria lengan pendek. bahannya yang katun tipis juga cocok untuk digunakan seperti kemeja santai a'la hawaii'an atau kalau kamu harus pake' batik hari Jum'at , ya dipake waktu itu ya, dijamin gak bakalan kelihatan 'oldies' deh.
Common Beauty 1
Kamis, 20 Agustus 2009
Pushing The Boundaries
Yang paling menonjol dari bagian badannya sendiri sebenarnya adalah isen-isen coklat serupa semak yang rapat sehingga serupa tulang ikan (motif herring-bone), dikerjakan dengan rapi sekali. Di badan ini tidak digunakan motif buketan normal, tetapi komposisi ‘loose flower’ yaitu satu-dua bunga utama dikelilingi daun-daun, dan bagi yang cukup jeli, ada digambarkan akar-akar juga. Untuk menampilkan efek 3 dimensi, setiap kelopak, baik bunga maupun daunnya diberikan warna berbeda ( merah, coklat, biru dan hijau). Unsur penyeimbang dari komposisi yang “berat” ini adalah bunga-bunga putih (off-white) yang tersebar menggerombol di sela-sela seluruh badan.
Selasa, 07 Juli 2009
Foreign Affair : European Influence in Madura
Salah satu bangunan paling penting di masa lampau adalah masjid (tempat ibadah), selain penjara, kantor pemerintahan & kraton (kediaman penguasa). Jadi sebenarnya kalau pengin melihat contoh terbaik dari arsitektur dan budaya setempat, lihat saja salah satu diantaranya. Di Madura hanya ada satu kota kabupaten (Sumenep) dimana kita masih bisa melihat & sekaligus merasakan suasana “tempo doeloe” karena banyak bangunan-bangunan penting tersebut, masih terlestarikan dan kadang masih digunakan sesuai dengan fungsi aslinya.Tapi kali ini kita bicara mengenai satu obyek masa lampau, yaitu bingkai.
Bingkai ukir ini, yang membingkai Asma’ul Husna di kanan & kiri mimbar di Masjid Agung Sampang, benar-benar membuktikan pengaruh masa lampau yang ada di Madura. Arsitektur
Masjid Agung sendiri sudah amat modern tapi frame ini adalah bagian dari Masjid Agung yang terdahulu.
Ukirannya eropa banget, gak ada sama sekali unsur local-nya. kalau kita bayangkan frame ini apabila di tempat lain biasa digunakan sebagai bingkai kaca pantul di atas commode atau meja console
Bagian “crown” nya adalah bentuk “scallop” yang dibentuk dari lembar-lembar daun acanthus (inget langgam kolom Corinthian ?) , ada “garland” rangkaian bunga & buah serta bentukan “urn” atau guci tutup di kiri & kanan. Hal yang membedakan dari ukiran di sekitarnya (Masjid Agung Sampang penuh bagian bangunan yang diukir indah) adalah langgamnya yang sangat eropa dan kualitas ukirannya yang sangat artistic.
Masjid Agung sendiri sudah amat modern tapi frame ini adalah bagian dari Masjid Agung yang terdahulu.
Ukirannya eropa banget, gak ada sama sekali unsur local-nya. kalau kita bayangkan frame ini apabila di tempat lain biasa digunakan sebagai bingkai kaca pantul di atas commode atau meja console
Bagian “crown” nya adalah bentuk “scallop” yang dibentuk dari lembar-lembar daun acanthus (inget langgam kolom Corinthian ?) , ada “garland” rangkaian bunga & buah serta bentukan “urn” atau guci tutup di kiri & kanan. Hal yang membedakan dari ukiran di sekitarnya (Masjid Agung Sampang penuh bagian bangunan yang diukir indah) adalah langgamnya yang sangat eropa dan kualitas ukirannya yang sangat artistic.
Langganan:
Postingan (Atom)