Tampilkan postingan dengan label masterpiece. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masterpiece. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

Few Steps Closer : Pamekasan's Journey into Perfection

Now this is my posting @ my FB Pages

Oleh-oleh perjalanan ke Desa Podhek Pamekasan seminggu lalu, bersama Mbak Niyah, Bang Rusydi dan Mbak Myshat Andaya , menemui rekan-rekan pengrajin.
Untuk saya yang sudah berkali-kali berkunjung, tidak ada ekspektasi khusus selain bertemu teman-teman dan melihat karya mereka yang terakhir. Tetapi ada satu "kejutan" yang disimpan Bang Rusydi dan Teamnya untuk kami : masterpiece dalam proses kelahirannya.
Sering kami berbincang bahwa pencapaian yang ingin diraih adalah melahirkan "real" batik halus di bumi Pamekasan. Sehalus apa ? : bagi rekan-rekan pecinta wastra (batik) sudah tidak usah ditanya lagi. Hanya satu tolok ukur kehalusan saat ini : The real masterpiece of OST.
Cecekan halus OST klasik ini yang akhirnya ; saya rasa ; berhasil didekati oleh Bang Rusydi dan Team-nya. Belum bisa dikatakan sudah berhasil karena batik ini (semua yang ada di album ini berasal dari satu lembar batik) dimaksudkan untuk menjadi multi-colors, bukan biron. Tapi (meminjam teman whatsapp saya yang kemaren saya forwardkan gambar-gambar ini) biron-nya-pun sudah menggetarkan sukma.
Tidak ada 'roh pamekasan' di sini? Engga masalah, karena kita sedang me-redifinisi-kan identitas Pamekasan (seperti kata Bang Rusydi dulu : saya bertujuan membuat batik halus, bukan yang 'lain-lain').
Buat rekan-rekan pecinta batik, titip doa ya biar si bakal 'supermodel' ini bisa lahir dengan selamat, karena ;tahu sendiri khan; masih panjang, jalan si Biron ini menjadi batik masterpiece tonggak sejarah peningkatan kualitas Bapk Pamekasan.









 

Selasa, 23 Februari 2010

Worth to be loved : Collector’s Item

It’s very subjective when we choose things we love, especially when it come in terms of the work of art. But who could blame me when I say that these items worth your attention? These Classic-style Bangkalan Tanjungbumi hand-drawn batik was the item. It’s not rare, at least not in a while. But you can see that it’s enchanted, unique and real. Patterned after sea life, theme dears to the Maduranese people depicting sea creatures, boat, stylized waves and all things marine.
Done in bold manner, these piece of art has unusually fine “tumpal” , part that indicates direction on how we wear this sarong, depends on the fashion of the day. These tumpals has soft ivory-white background and finely-detailed patterns almost like the more elaborate and expensive “gentongan”.
This combination has rarely seen since the badan can be seen as bold-and-quick kind of craftsmanship. Simple observation brings to our imagination to the explanation that these sarongs has at least two people with different batiking skills.Like the legendary “dua negeri ‘or more expensive “tiga negeri”, this practice of brings batik into different regions “just” to get certain treatments ; whether it was coloring process or laboring the crowded background with specific isen-isen; it still continue today.

Kamis, 20 Agustus 2009

Pushing The Boundaries

Batik dari dulu adalah seni yang istimewa, dan batik yang istimewa secara natural adalah konsumsi kalangan yang sangat terbatas. Untuk melayani kebutuhan dan selera dari kaum eksklusif ini, diproduksilah batik-batik yang sangat berkualitas. Nah apabila kamu beruntung bisa melihat beberapa diantaranya, pastilah makin kagum dan cinta akan seni batik ini, karena pengrajinnya meng-optimal-kan proses penciptaan ke level berikutnya, batik yang dihasilkan benar-benar suatu karya seni yang patut dihargai. Seperti yang satu ini.
Sebenarnya sih yang ini bukan “karya empu” ya. Saya pernah lihat (dan punya) beberapa yang secara teknik ”challenging” karena pembuatannya amat rumit dan detailnya mengagumkan. Tapi kebanyakan buatan masa lalu alias barang kuno. Yang satu ini produksi sekarang, tetapi cukup mengagumkan. Dengan format pakem klasik tetapi sudah tidak rigid , artinya sudah tidak ada papan di kanan-kiri tumpal, tidak ada “inner crawler” di sisi tepi-nya. Warna tema adalah coklat,namun bukan coklat sogan yang bernuansa Jawa Tengah ya.
Bagian tumpalnya memberikan kontras dengan seling ombak diagonal 4 corak dan 4 warna berbeda ( krem terang dengan background sessek, coklat , hijau dan biru, masing-masing dengan tema isen-isen berbeda)
Yang paling menonjol dari bagian badannya sendiri sebenarnya adalah isen-isen coklat serupa semak yang rapat sehingga serupa tulang ikan (motif herring-bone), dikerjakan dengan rapi sekali. Di badan ini tidak digunakan motif buketan normal, tetapi komposisi ‘loose flower’ yaitu satu-dua bunga utama dikelilingi daun-daun, dan bagi yang cukup jeli, ada digambarkan akar-akar juga. Untuk menampilkan efek 3 dimensi, setiap kelopak, baik bunga maupun daunnya diberikan warna berbeda ( merah, coklat, biru dan hijau). Unsur penyeimbang dari komposisi yang “berat” ini adalah bunga-bunga putih (off-white) yang tersebar menggerombol di sela-sela seluruh badan.
Seperti karya seni lukis, terdapat ciri yang dapat menjadi “signature” dari artis pengrajin-nya.Coba lihat di bagian tumpal , detail ombak diagonal biru & hijau. Di setiap pinggir ada ‘rendering’ yang mengelilingi setiap helai daun & bunga pinggiran ombak, dan setiap ujung rendering membentuk lengkung serupa kait. Juga bisa dilihat isen-isen di bagian ini , seperti kait-kait yang saling bersambungan. Motif isian seperti ini membutuhkan ketelitian yang luar biasa, karena repetisi mengandung resiko besar, yaitu akan gampang kelihatan apabila dikerjakan secara serampangan. Dan seperti dilihat, rapi bukan ?