Tampilkan postingan dengan label klasik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label klasik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2009

Looking Back The Time - 2

Batik klasik lain yang saya punya adalah yang satu ini. Dari tampilannya terkesan monotone karena tergolong “putihan” yaitu batik dengan latar belakan (berusaha) putih. Ditambahin berusaha karena kenyataannya ada teknik remuk yang memang sengaja dilakukan untuk dapat efek tertentu (bukan “njelembret” atau “mblobor”katanya orang Jawa). Untuk yang tahu proses pembuatan batik, sebenarnya justru batik “putih”an ini rada susah, karena ini berarti menutupi sebagian besar areal background (istilahnya “nembok”i). Bagian badan dari kain batik sarung Tanjungbumi ini juga merupakan repetisi dari dua pattern , yaitu manok atau motif burung , dan (katanya) kembang pisang (kok lebih kelihatan kayak talas ya, hehehehehe). Untuk bagian tumpalnya, menggunakan repetisi motif panji lekkok.
Nah, bagi yang memperhatikan format keseluruhan desainnya, ini memang desain formal pasisiran (seluruh bagian sarung pasisiran, komplit ada di sini).Kain Sarung ini menggunakan pewarna alami di atas bahan Primissima kelas satu yang halus sekali, dan proses pembatikannya di’terus’i alias dibatik kedua sisinya.

Jumat, 19 Juni 2009

Perfect Pamekasan

Although it may not known for its finely detailed execution, sometimes we encounter one or two pieces so fine but still retain its identity. As one of the batik center in Madura, Pamekasan has always produce more “common” in theme and quality compared to those of TanjungBumi Bangkalan.But not this one. The overall appearance has said ‘common’ as it is, but it all change with coser observation.
Finely executed “isen-isen” has the overall impact of over-crowded , something reserved only piece with semarangan-style Batik Pasisir.
The isen-isen background uses ‘bulir-padi’ style, densely-packed rice grain that also has understated philosophy of abundance (berkelimpahan). Although done with details, it still recognizable as Pamekasan-influenced Batik Madura because of the color composition and pattern preference of somewhat stiff flower arrangement (bouquet).
The important thing we can see that this over-dense background has serve as lighter background for ‘shadow-playing’ of main pattern. Rather than bold and strong, the main theme of flower bouquet has appears as ‘shadow’, hollow space presented by the lack of light crowd of background , the same principle found in both wayang kulit craft and most of traditional Pamekasan Style As for the overall impact, this important piece of Batik uses the finest Primissima Cotton as smooth as light silk and the batik has done in both sides of fabric (see: nerus’i)

Strong Statement

There’s something masculine with Madura Batik, and probably it owes much to its daring and bold combination of color composition and not-so-fine execution. Although it’s not as ‘fine’ as batik pekalongan, the overall effect is somehow come with character, and you will say that it’s “unmistakably madura” You can easily see those in my example here. Produced in Tanjungbumi, center of ‘finely crafted’ batik in Madura Island, it screams masculine right away. Although it faithfully follow the most traditional pattern of Sarung Pasisir (Tumpal in the middle, double “Papan” and rows of Pinggir’ after “seret”) this fully hand-drawn piece of batik has bold but also detailed execution. One’s attention must’ve been drawn first to the color combination. It only consisted of very limited palate of light cream (original base color of the cotton) , hues of greens and brown, overall from natural pigments. Its “dirty” looks has achieved by letting ‘cracks’ seeped through with ‘pecah-seribu’ patterns that leave no surface with pristine condition. And the second must be this big'n'bold “oh-so-daring” pattern combination. Incorporating the new approach to much traditional patterns such as ‘manok’ (bird within egg-like oval), ‘sessek’ (fish-scale), ‘get-togget’(sprout) and ‘mbang duri’ (thorny plant), the badan section has vertical in appearance. And the bold hasn’t come to the end when it goes to the Tumpal. With its 3-section base it shows form-manipulation by combining rectangular with contoured edge resulting in more playful effect. Centered with diamond-shape and diagonal background, this Tumpal surely stands out from the crowd.

Kamis, 18 Juni 2009

Looking Back The Time - 1

Madura sebagai daerah pesisir punya kaitan erat dengan laut sekitarnya, baik dari hubungan perdagangan maupun melalui aktivitas kelautan. Di sini diperlihatkan pengaruh bentuk-bentuk binatang laut yang dijadikan motif utama batik klasik tanjungbumi. Uniknya semua bentuk itu ter-abstrak-kan (highly stylized) menjadi satu bentukan yang ;walaupun masih terlihat rupa awal; lebih ke arah dua dimensi & dekoratif. Motif "Serupa Ikan" (ada bagian yang seperti insang di luar ya), motif "Serupa Udang" dan "Serupa Teripang/Terung Laut" termasuk yang ada di sini. Batik Laut ini termasuk batik lawas, namun belum kategori antik, karena pasti belum puluhan tahun, dan dibeli dalam keadaan "Baru" (sudah lama dibuat-nya tapi baru terjual, dan tidak pernah dipakai). Kondisi bagus banget, pewarnaan alami dan detail-nya.... Klasik Tanjungbumi versi ini menggunakan emulsi warna serupa pasta & sangat pekat, apabila ditambah pengerjaan yang sangat detail, hasilnya jadi seperti "blok item". Tracing ballpoint masih samar-samar kelihatan, dan batik ini di-terusi depan belakangnya. Nah, posting tampak utuh ini bisa memperlihatkan bahwa tumpal diagonal memang benar-benar populer di kalangan pembatik klasik. Bagian "Pinggir" dihias seperti rangkaian bunga putih yang bersifat 'fluid' , agak kontras dengan tradisional-nya tema sarung ini. Apabila dilihat di teori, "pinggir" seperti ini memang lebih banyak ditemukan di "batik belanda" pesisiran. Jadi dilihat dari kombinasi seluruh bagian sarung ini bisa dilihat perpaduan banyak hal : Madura yang hubungan-nya dengan laut (nelayan) adalah sangat kuat, Pengaruh Pasisiran (Pekalongan) juga terasa. Pewarnaan tradisional dengan menggunakan pigment natural seperti layaknya batik produk Jawa Tengah.

Jumat, 05 Juni 2009

Reds

Ilustrasi di samping adalah contoh dari 3 hal yang mau saya share-kan :

1. Warna merah sering digunakan dominan sekali, sehingga seluruh kain/sarung kelihatan merah (Mirah Medunten) walaupun 'intensity' warna nya tidak se-tua red-crimson nya Lasem

2. Pinggir kain di samping adalah contoh desain formal batik klasik pasisiran, yaitu bagian 'seret' paling ujung (serupa garis-garis berdiri) yang melambangkan 'pagar' , inner crawler' yang berupa bagian diantara pagar & taman dalam, dan diakhiri 'gunungan'

3. Background menampilkan motif "rammok" (remuk seribu) , yang konon merupakan salah satu motif asli Madura dan termasuk motif tua.