Minggu, 22 Juni 2014

Friendship Force Surabaya : on how we Introduce our Beautiful Heritage to our Friends from Abroad (Sacramento, that is)


Last month we (me, mas Firman Guendut and mas Prima Klampis Ireng Batik ) had the opportunity to give small presentation about batik. The highlight for this session wasn't entirely about the batik itself because Friendshipforce Sacramento delegations had already had a batiking session in Surakarta. Rather we introduce the most traditional way of preserving batik fabric using natural ingredients and 'ratus' , old-style preservation incorporating incense 'fragrant' smoke , the practice that even Indonesians hadn't seen in years.
Well, why preservation intrduction, then ? why not batiking itself ? 
It was just because prior to their arrival to Surabaya, they'd visited Surakarta first and they had their batiking session there. And i think to have continuation of the topic, i think i have to find related but not exactly the same topic with our friend's in Surakarta.

 Photo Credit : All of these beautiful illustrations was
Rendy Tjitrawardhana 's from his album : FF SBY-Sacramento, Day 2 - Art & Culture Day .
Contributing presentation material : Ibu
Noorlailie Soewarno Tjahjadi with late-night discusion and grammar-checking.


 
 
 
 

Wayang Beber : Our Own Tradition Slideshow

Who have seen this "Wayang Beber" by the eyes? Do you know that word, 'wayang beber' anyway? 
Well, i did, recently. 

For the first time i really take considerable time to enjoy this unique tradition. Wayang Beber is a traditional slide-show you could imagined pages of comic-book looks like, centuries ago. Made on traditional vellum or bark-tree (recently, on specially-treated canvass), it largely depicting (part of) classic stories of Mahabharata & Ramayana. Every important scene in each of the stories, drawn to give a clearer imagination of what's happening. 
And of course, it was narrated by "Dalang" , respectable story-teller in live-animated style, changing voice and gestures indicating different characters in related scene. 
  
Saw this masterpiece in front of my store, that happened to have some kind of fair for small-scale industry. This beautiful wayang was made in Sukoharjo, small town of Central Java region.

Speaking about this wayang, it was quite small . in the area of apprx. 60 x 90 cm, it was full with details. And i mean details. insanely ornate details, And colors. And you have to understand : to give the audience clearer identity of every persons in those pictures, every character have to be drawn with consistent indication of characters. whether it was headdress, mask, weapons, dress code, etc. 



Siapa yang pernah melihat wayang beber ?

Untuk pertama kalinya saya melihat (memperhatikan dan memegang) wayang beber produksi sukoharjo, kemaren pada pameran industri kecil di atrium Royal Plaza Surabaya. Wujudnya memang serupa lukisan dekoratif , tetapi pasti kita sadar bahwa ‘lukisan’ ini sedang mengabadikan satu momen pada kisah tertentu.

Layaknya slide-show, satu cerita pewayangan (umumnya Mahabharata atau Ramayana) dibagi menjadi beberapa gambar/slides yang akan dibuka (dibeber) di depan pemirsa-nya, dan diberikan narasi oleh Ki-Dalang nya yang sering menyertakan bumbu-bumbu dialog berbagai karakter yang digambarkan di lembar tersebut, sering dengan mengubah-ubah warna suara dan intonasi, sehingga kita dengan mudah membayangkan beberapa karakter dalam penuturannya.

Wayang beber yang saya lihat ini cukup kecil, sekitar 60x90 cm , tetapi detail sekali pengerjaannya. Setiap karakter/tokoh yang selayaknya hadir dalam ‘scene’ itu, digambarkan dengan teliti beserta detail-detail identitas masing-masing, sehingga pemirsa dapat meng-identifikasi’ siapa tokoh yang sedang dilihat.

Craftmanshipnya juga memperlihatkan detail yang luar biasa. Bahan wayang beber ini kain/kanvas tipis sekali serupa kertas lama, warna yang ditampilkan luar biasa, dengan 3-5 gradasi warna untuk setiap detail yang penting, serta outline yang tipis yang mengingatkan saya pada Rotring 0,1 andalan dahulu. Hue (karakter warna) keseluruhan wayang beber ini dapat dipesan, apakah berupa coklat tradisional seperti di gambar-gambar saya ini, atau hijau-biru botol seperti wayang antik. Menarik sekali.

Item : Wayang Beber
Dimensi : (appr) 60x90 cm
Pembuat : Srikandi Dewi Handicraft
Lokasi : Parangjoro Grogol, Sukoharjo Jawa Tengah



















Minggu, 20 April 2014

Non Batik Posting : Gresik Heritage, KIBAS Agenda April 2014

Guys, this is also my rather-longer posting in my FB Account. Enjoy.

Jalan-jalan KIBAS kali ini berfokus ke pengenalan budaya Jawa Timur yang sangat beragam, dan kali ini kita berkunjung ke Kampung Kemasan, Gresik.

Sekitar tahun 1853 dari satu kampung yang terkenal dengan spesialisasi pembuat & reparasi emas dengan pemuka usahanya yaitu seorang keturunan China yang bernama Bak Liong, tahun 1855 Oemar bin Ahmad, warga keturunan Arab, yang dikenal sebagai pedagang kulit serta pengusaha penangkaran burung walet mendirikan rumah di daerah ini.
Pada tahun 1861, didirikan dua rumah di sebelah kiri rumah utamanya.
Tahun 1896, lima dari tujuh anak H. Oemar (H.Asnar, H. Djaelani, H. Djaenaeddin, H. Maechsin dan H. Abdoel Gaffar) meneruskan usaha perkulitan keluarga, dan dua tahun kemudian berdirilah pabrik penyamakan kulit di Desa Kebungson Gresik yang berjaya di kisaran 1896-1916.
Berkat kemakmuran ini keluarga keturunan H. Oemar bin Ahmad berhasil mendirikan sederetan rumah di kampung kemasan yang saling berhadapan. Bangunannya memiliki keunikan arsitektur yang menjadi bukti masa keemasan kota Gresik dulu kala.
Gaya arsitektur rumah-rumah itu beragam, ada yang bergaya kolonial (Belanda), China, Melayu dan Jawa.Bangunan yang paling menonjol adalah rumah tinggal “Gajah Mungkur” milik H. Djaelani, putra keempat H. Oemar bin Ahmad, didirikan pada 1896 dan ditempati pada 1902. Dari 23 bangunan di Kampung Kemasan sampai saat ini masih dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya, tinggal 16 bangunan (rumah) yang masih terpelihara.

Sumber :
http://gresikkab.go.id/
http://nisrinamasnur.wordpress.com/
http://jawatimuran.wordpress.com/
Keterangan di lapangan


Rumah “Gajah Mungkur” milik H. Djaelani, putra keempat H. Oemar bin Ahmad, didirikan pada 1896 dan ditempati pada 1902.
Terlihat beragam gaya dalam satu bangunan yang menandai kuatnya trend "Victorian Style" pada masa itu namun sudah mulai terasa kehadiran Art-Deco pada detail-detail nya.
Yang menarik pada bangunan ini, adalah skala nya yang lebih 'manusiawi' dibandingkan bangunan/rumah yang lain... yang dibangun oleh keturunan H.Oemar Bin Ahmad ini.
Tidak didapat keterangan apakah deretan pintu-jendela kaca di bangunan ini adalah asli rancangan awal, atau ditambahkan kemudian, menutupi verandah yang lazimnya mengelilingi sisi bangunan yang dibangun pada masa itu (verandah terbuka dimaksud bisa dilihat pada lantai-dua bangunan yang sama).
 
 
 

 


Inner courtyard (family quarter) , dengan atmosphere serupa ruang pribadi untuk para wanita (dan anak-anak) yang lazim ada pada layout rumah keluarga terkemukaTionghoa dahulu (disini juga terdapat sumur seperti lazimnya).
Salah satu dari kedua jendela di lantai dua adalah jendela dekorasi (faux window).















 wrough iron banyak digunakan dalam bangunan-bangunan rumah Kampung Kemasan ini. Satu hal yang menarik adalah kepala gerbang halaman rumah bertuliskan "H ASNAR B H OEMAR" menandakan bahwa ini adalah kediaman H Asnar, satu dari kelima anak H Oemar bin Ahmad yang ikut meneruskan usaha kulit keluarga. ( B artinya adalah Bin ).















 Verandah di salah satu rumah keturunan H. Oemar bin Ahmad.
Trend "Victorian Style" yang digunakan cenderung ke arah "Queen Anne" dengan bata eksposnya, namun (dengan semangat eklektik) juga terasa pengaruh tropis yaitu adanya verandah (teras) yang lebar sebagai ruang penahan sinar matahari langsung.









 Gaya formal kolonial dengan double-rows Doric-Column.
Gaya tropis kolonial terlihat kuat pada kedua verandah (teras) yang memberikan 'ventilasi' tambahan bagi ruang yang menghadap depan, agar tidak langsung terekspos panas matahari.
Rumah-rumah sisi deret kanan tidak ada yang memiliki halaman terpagar (seperti rumah di hadapannya).















 Kediaman salah satu dari keturunan H. Oemar bin Ahmad. Walaupun secara detail berbeda dengan rumah di hadapannya yang memiliki kolom-kolom formal Doric (rumah ini menggunakan kolom tembok dan pilar besi ) gaya tropis kolonial terlihat kuat pada kedua verandah (teras) yang memberikan 'ventilasi' tambahan bagi ruang yang menghadap depan, agar tidak langsung terekspos panas matahari.
Hal menarik lainnya adalah rumah ini memiliki halaman berpagar (tertutup) sedangkan rumah-rumah lain 'dibiarkan' memiliki akses langsung ke jalan














 Jendela sekaligus pintu pada lantai dua gedung bagian belakang.
Dapat dilihat double-locks menghadap keluar di daun jendela tersebut (ini adalah gedung/ruangan untuk budidaya walet)

















Bagian menara dari rumah “Gajah Mungkur” milik H. Djaelani, putra keempat H. Oemar bin Ahmad, didirikan pada 1896 dan ditempati pada 1902.
Terlihat beragam gaya dalam satu bangunan yang menandai kuatnya trend "Victorian Style" pada masa itu (yang juga terpengaruh, bahkan di daerah koloni yang jauh dari eropa).



Few Steps Closer : Pamekasan's Journey into Perfection

Now this is my posting @ my FB Pages

Oleh-oleh perjalanan ke Desa Podhek Pamekasan seminggu lalu, bersama Mbak Niyah, Bang Rusydi dan Mbak Myshat Andaya , menemui rekan-rekan pengrajin.
Untuk saya yang sudah berkali-kali berkunjung, tidak ada ekspektasi khusus selain bertemu teman-teman dan melihat karya mereka yang terakhir. Tetapi ada satu "kejutan" yang disimpan Bang Rusydi dan Teamnya untuk kami : masterpiece dalam proses kelahirannya.
Sering kami berbincang bahwa pencapaian yang ingin diraih adalah melahirkan "real" batik halus di bumi Pamekasan. Sehalus apa ? : bagi rekan-rekan pecinta wastra (batik) sudah tidak usah ditanya lagi. Hanya satu tolok ukur kehalusan saat ini : The real masterpiece of OST.
Cecekan halus OST klasik ini yang akhirnya ; saya rasa ; berhasil didekati oleh Bang Rusydi dan Team-nya. Belum bisa dikatakan sudah berhasil karena batik ini (semua yang ada di album ini berasal dari satu lembar batik) dimaksudkan untuk menjadi multi-colors, bukan biron. Tapi (meminjam teman whatsapp saya yang kemaren saya forwardkan gambar-gambar ini) biron-nya-pun sudah menggetarkan sukma.
Tidak ada 'roh pamekasan' di sini? Engga masalah, karena kita sedang me-redifinisi-kan identitas Pamekasan (seperti kata Bang Rusydi dulu : saya bertujuan membuat batik halus, bukan yang 'lain-lain').
Buat rekan-rekan pecinta batik, titip doa ya biar si bakal 'supermodel' ini bisa lahir dengan selamat, karena ;tahu sendiri khan; masih panjang, jalan si Biron ini menjadi batik masterpiece tonggak sejarah peningkatan kualitas Bapk Pamekasan.









 

Selasa, 08 April 2014

I'll tell you about something : Tulungagung & Trenggalek Batik Trip

This time i wouldnt go into something serius.
Last week me and my 18 friends from KIBAS went to Tulungagung and Trenggalek. It was out-of-radar batik centers, especially Trenggalek. Tulungagung was relatively unknown to East Javanese Batik connoiseur, albeit the outside world. The thing is : this region produce some of the most recognizable yet full of fusions from other influence. It is called Majan's Tulungagung.
See for yourself
 
 
 
 
Those are from the atelier of Batik Yunar Tulungagung. You can easily find her account on FB under ther very same name. It has fine craftmanship, enchanted, both traditional and gave bit of modern twist.
 
 
 
 
 
 
Those beautiful 'thing' was actually from a single 'sarung' , so diverse its part that my friend had thought that i'd show him a couple of samples. Those are picture from a relatively old sarung (around 50 y.o.) and gave us some clear evident that once Batik Tulungagung was as fine as other more important and famous batik center.
( we saw it at Mas Bobby's place).