Minggu, 02 September 2012

New-life of the Old Culture

Sejak beberapa saat lalu banyak kain batik berkelas dan klasik dimodifikasi peruntukannya yang mulanya berupa kain panjang / sarung, menjadi tas, dompet dan sepatu.
Ada beberapa anggapan mengenai hal ini. Di satu sisi kita melihat meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap karya budaya kita ini, baik dari sisi ekonomi (banyak kain klasik yang tadinya berharga 'biasa' menjadi meingkat secara rupiah) , kultur (biasanya barang-barang asal batik ini juga diberikan keterangan mengenai 'genre', characteristic' , proses pembuatan dan sejarah dari kain batik tersebut).
Di sisi lain, karena mengubah peruntukan awal dari kain panjang / sarung menjadi barang lain, maka ada proses 'modifikasi' yang dilakukan. Istilah yang paling dikenal di kalangan batikers adalah "mutilasi" , karena batik tersebut mau tidak mau memang harus 'dikorbankan/digunting' untuk berubah fungsi.
Positif-negatif dari new interest ini punya bobot dan kubu pendukungnya masing-masing. Yang mendukung sering memberikan argumen 'cultural-love' dan kenyataan bahwa banyak kain-kain kuno ini memang sudah tidak sempurna kondisinya. Kubu Contra juga mengangkat argumen 'culture' (batik antik berkualitas tinggi seharusnya menjadi dokumentasi keagungan budaya bangsa dan dikoleksi sembari dipelajari, bukan dicacah menjadi tas, baju atau sepatu).
Bagaimana jika kita tetap mencintai batik sembari tetap menggunakan tas, sepatu atau baju dengan bahan batik yang berkualitas, tetapi dibuat baru dan tidak perlu kain klasik? Anda setuju ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar